Posted by: Rumah Sains ilma | April 10, 2010

Faiz Ilham Muhammad dan Aldi Dwianto – Sebuah Kisah Hovercraft

Mengubah Paradigma Sains Lewat Festival

Republika, 1 Oktober 2004

ISF 2004 memamerkan karya siswa di bidang sains di pusat perbelanjaan. Dapatkah ini mengubah pandangan bahwa sains menakutkan dan menyeramkan?

Sebuah balon dilengketkan di atas botol film yang alas bawahnya sudah dilubangi seukuran lubang jarum. Saat diletakkan di atas permukaan air atau pada permukaan kertas tripleks, balon bergerak. Gerakannya lincah, bahkan bisa sedikit terangkat dari alasnya. Gerakan itu berlangsung hingga udara yang ada di dalamnya habis dan balon mengecil.

Bagaimana hal itu bisa terjadi? Faiz Ilham Muhammad dan Aldi Dwianto dengan fasih menjelaskannya. Ini mengikuti prinsip hovercraft (kendaraan yang bergerak karena ada aliran udara di bawahnya),” Aldi menuturkan. Kalau saja Faiz dan Aldi sudah duduk di bangku sekolah menengah atas, prinsip hovercraft mungkin saja bukan hal yang baru lagi. Pembuatan hovercraft amfibi dengan menggunakan prinsip tersebut bisa mengundang perhatian banyak orang karena keduanya masih duduk di bangku kelas VI Sekolah Dasar (SD) Muhammadiyah 12 Setiabudi, Pamulang, Provinsi Banten.

Atas bimbingan gurunya, Yanto A.MaPd, Faiz dan Aldi membuat hovercraft yang dapat bergerak dengan bagus di permukaan triplek lapis dan juga di permukaan air. Selain bermanfaat untuk memeragakan cara kerja hovercraft, juga bermanfaat untuk menunjukkan beberapa gejala sains, khususnya tentang udara. “Keuntungan dari alat yang kami buat sebagai alat IPA ini adalah biayanya murah dan mudah sehingga dapat dibuat oleh teman-teman di sekolah lain, ” kata Faiz. Selain itu, “Bentuknya seperti mainan sehingga penjelasan tentang sains dapat menjadi lebih menyenangkan.”

Faiz dan Aldi hanya salah satu dari sejumlah siswa SD, SMP, dan SMU yang memamerkan hasil karya mereka di Plaza Semanggi, 23-26 Septermber 2004. Ini sebagai rangkaian dari Indonesian Scince Festival (ISF) 2004. Selain memamerkan karya siswa, diselenggarakan pula pertunjukan sains spektakuler dari Dr Bunhead, BBC Science Presenter yang didatangkan langsung dari Inggris dan parodi sains Doctorabbit.

Kenapa mesti diselenggarakan di plaza? Staf Direktorat Pendidikan Menengah Umum, Departemen Pendidikan Nasional, Suharlan punya alasan. Dia bilang, “Kita ingin mengubah suasana. Itu karena sasarannya bukan hanya kepada siswa, tapi juga kepada masyarakat umum, pengunjung plaza.”

Suharlan mengatakan, dengan menjadikan pusat perbelanjaan semacam plaza sebagai tempat penyelenggaraan festival sains, ingin ditunjukkan bahwa sains ada di mana-mana. Ini sekaligus untuk mengubah kesan selama ini yang memandang sains adalah sesuatu yang menakutkan dan menyeramkan. “Kita ingin budayakan sains dengan kemasan menarik,” tuturnya.

ISF merupakan kali kedua diselenggarakan setelah kegiatan serupa tahun lalu. Bertemakan, Science is Everywhere, ISF 2004, bertujuan selain menjadi showroom atau wadah untuk menampilkan hasil karya siswa di bidang sains. Dari kegiatan ini juga diharapkan dapat mengubah paradigma sains yang kurang diminati oleh siswa. “Itu karena karya sains yang ditampilkan, dikemas secara menyenangkan,” ujar Suharlan.

Dengan kemasan seperti itu, menurut dia, diharapkan sains menjadi sebuah gaya hidup. Para siswa dapat mempelajari sains tidak hanya di lingkungan sekolah dengan suasana kelas dan laboratorium, tapi dapat juga mempelajari sains di lingkungan sekitar. “Antara lain melalui hobi dan berbagai aktvitas sehari-hari atau dalam kegiatan ekstrakurikuler,” tuturnya

Dalam kegiatan ekstrakurikuler di bidang karate, misalnya. Lewat kegiatan ini siswa dapat mempelajari sains, khususnya tentang gerakan momentum pada saat mereka memecahkan batu bata. Demikian pula saat bermain musik. Dalam kegiatan ini siswa dapat mempelajari bunyi dan getaran dari musik yang dimainkan.

Suharlan menuturkan, ISF 2004 dibuka secara resmi oleh Menteri Pendidikan Nasional A. Malik Fadjar, 24 Juni 2004 bersamaan dengan peluncuruan Mobil laboratorium Sains Keliling (Mobil Lab) yang dilengkapi dengan fasilitas laboratorium fisika, kimia, dan biologi. Puncak penyelenggaraan ISF berlangsung 16-26 September 2004.

Serangkaian dengan kegiatan tersebut, diselenggarakan pula program Youth Science Jambore untuk 25 siswa SMA perwakilan dari lima wilayah di DKI Jakarta, 16-19 September 2004. Kegiatan dilanjutkan dengan Science camp, 22-23 September 2004 untuk para finalis kompetisi proyek sains nasional SD sebelum mempresentasikan karya mereka di depan dewan juri. Saat bersamaan, para guru matematikan tingkat SD mengikuti workshop dilanjutkan dengan presentasi finalis lomba karya inovasi mengajar sains dan matematika.

Selain Faiz dan Aldi, ada pula Venny, siswi SMP Ketapang, Jakarta yang memamerkan karyanya mengenai pembangkit listrik turbin buatan. Dalam karya ini, dibuat semacam sebuah perkampungan kecil yang dilengkapi dengan tempat hunian. Dari rumah-rumah tersebut, terbentang dua buah kabel mengikuti alur jalan yang ujungnya tersambung di turbin. Lampu di dalam rumah-rumah akan menyala bila turbin diputar. Venny –sebagaimana halnya dengan Faiz dan Aldi–amat lancar menjelaskan karyanya kepada setiap pengunjung.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: