Pamulang,  28 September 2012

Kepada Yth

Bapak Prof. Dr. Ir. Muhammad Nuh

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia

 

Assalaamu’alaykum warahmatullaahi wabarakaatuh

Semoga keberkahan dari Allah SWT dilimpahkan kepada Bapak dan keluarga. Hari ini melalui Kabalitbang Kemendikbud, Bapak Khairil Anwar, terdengarlah oleh kami di ruang publik tentang wacana penghapusan mata pelajaran IPA dan IPS di sekolah dasar. Beritanya tersebar di banyak media online. Segera saja sesudah itu maraklah diskusi di berbagai forum dunia maya. Ada yang pro, ada yang kontra.

Beberapa jam kemudian terdengar pula oleh kami semacam sanggahan yang dikutip oleh media online dari Bapak Dharmaningtyas, pengamat pendidikan, yang mengatakan bahwa IPA dan IPS tidaklah dihapus melainkan digabung menjadi IPU (Ilmu Pengetahuan Umum). Manakah yang benar, kami masih menunggu perkembangan selanjutnya.

Lepas dari simpang siur informasi itu, gagasan dasar penghapusan atau penggabungan IPA-IPS yakni untuk mengurangi beban yang ditanggung anak-anak kita setiap harinya sungguh sangat mulia. Tidaklah kita tega melihat anak-anak kecil itu terbebani begitu banyak pelajaran yang melelahkan dan sebagian di antaranya sesungguhnya tidak atau belum diperlukan.

Tapi Pak, hemat saya, persoalannya bukanlah pada jumlah mata pelajaran. Melainkan pada keluasan materi  dari masing-masing mata pelajaran, yang terlalu berlebihan. Selain itu target pembelajaran yang berfokus kepada hapalan yang tentu saja menyebabkan anak-anak bosan dan hampir tak ada manfaatnya bagi kehidupan mereka. Misalkan saja pelajaran IPA. Jika Bapak berkenan mencermati lebih dalam, akan tampak betapa pelajaran ini sungguh melelahkan. Ada banyak materi yang dijejalkan kepada anak-anak. Yang terjadi, proses pembelajaran menjadi seperti kejar tayang. Anak-anak kelelahan dan bosan, lalu ketika diuji di tingkat internasional semacam PISA tingkat literasi sains anak-anak kita berada di peringkat rendah. Pak Menteri, di situ masalahnya. Materi berlebihan, tapi tidak memberikan dasar-dasar sains yang kuat.

Pak Menteri bukanlah penghapusan atau penggabungan IPA-IPS yang perlu ditempuh. Melainkan lebih kepada menyederhanakan materi dari mata pelajaran tersebut sehingga benar-benar berfokus kepada pondasi yang perlu dibangun di dalam diri anak-anak, sebagaimana amanat yang sesungguhnya dari sebuah pendidikan dasar.

Di dalam pelajaran IPA misalnya Pak. Seyogyanyalah pelajaran ini difokuskan kepada pembentukan sikap dasar ilmiah dalam diri anak-anak seperti berhati-hati, disiplin, bertanggungjawab dan jujur. Seyogyanya pula difokuskan kepada keterampilan dasar ilmiah seperti mengamati, membuat pertanyaan, mengelompokkan, memisahkan, mengurutkan, mengukur, melakukan percobaan, mengolah data secara sederhana dan menyimpulkan. Tentang bagaimana bentuk pembelajarannya, banyak Pak. Bapak tentu memiliki banyak ahli yang kompeten untuk soal ini.

Sebagai contoh saja Pak. Pelajaran IPA bisa disajikan dalam bentuk kegiatan anak-anak mengamati lingkungan di sekitarnya dan diberi kesempatan untuk mengelompokkan benda-benda di sekitar menurut pikiran mereka sendiri, atau mereka diberi kesempatan untuk bercerita tentang semut yang mereka amati di halaman sekolah.  Pelajaran IPA bisa diwujudkan dalam bentuk kegiatan siswa  memelihara ikan, memberikan makan serta membersihkan akuariumnya secara rutin, atau menanam benih serta merawatnya selama satu semester, mengukur tinggi tanaman dari waktu ke waktu, dan mendisuksikan hasilnya di kelas. Bukankah dengan kegiatan seperti ini dapat tumbuh kecintaan anak terhadap makhluk hidup dan melatih mereka untuk disiplin dan tanggung jawab? Masih banyak lagi yang bisa dilakukan, dan berdasarkan sedikit pengalaman kami selama ngamen sains di sekolah-sekolah, kegiatan semacam itu membuat anak-anak antusias dan jauh dari rasa bosan.

Terakhir Pak, mari kita lihat sejenak negara Brasil. Negara ini kita kenal sebagai negara sepakbola, karena sepakbola sudah membudaya di sana. Begitu juga dengan sains atau IPA. Jika negeri ini sedang sama-sama hendak kita bawa ke garis depan dunia sains dan teknologi, maka pentinglah bagi kita untuk menjadikan sains dan teknologi itu sebagai budaya kita. Caranya, ya dengan membuat pelajaran IPA atau sains menjadi efektif dan menyenangkan sehingga anak-anak gandrung dengan sains sejak di usia dini. Bukan dengan menghapuskannya dari kurikulum sekolah dasar.

Demikian Pak. Semoga menjadi masukan yang bermanfaat bagi kemajuan negeri terkasih ini.

 

Hormat saya

 

Abdullah Muzi Marpaung

Orang tua dari dua anak yang gandrung sains

Email : bang_muzi@yahoo.com.au, bangmuzi@yahoo.com

 

 

 

Older Posts »

Categories

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 79 other followers